Senin, 02 Agustus 2010

Indonesia Siap Gunakan Energi Nuklir

SURABAYA - Menipisnya cadangan minyak dan gas bumi membuat orang perlu mengembangkan energi alternatif lain. Salah satu yang sedang dikembangkan adalah menggunakan energi bertenaga nuklir. Indonesia dinyatakan siap dalam menggunakan nuklir sebagai pendukung kebutuhan energi.
“Ada empat indikator kesiapan, yakni sumber daya manusia (SDM), pemangku kebijakan atau stakeholder, industri dan regulasi,” kata Dr Taswanda Taryo, Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) di sela-sela seminar Teknologi dan Keselamatan PLTN, di Kampus ITS, Rabu (28/7).

Sebelumnya Batan melakukan berbagai penelitian sejak tahun 1980-an. Hasil dari penelitian berujung pada kesiapan untuk memulai proyek pengolahan energi nuklir. Bahkan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang merupakan lembaga atom di bawah PBB menyatakan kesiapan Indonesia untuk menggunakan nuklir sebagai energi. “Itu disampaikan November tahun lalu,” katanya.
Lebih lanjut Taswanda mengatakan pemerintah sudah menyiapkan regulasi untuk pemanfaatan penggunaan energi nuklir yang dituangkan dalam UU No. 17 Tahun 2007. Dalam UU tersebut diamanatkan pemanfaatan nuklir di Indonesia pada jenjang waktu 2015 hingga 2019. “Paling lambat kita akan punya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) tahun 2019,” ujarnya.
Sebagai lembaga yang diberi mandat mengembangkan energi nuklir, Batan juga tengah membentuk Batan Incorporation yang berisi lembaga terkait seperti ESDM, Kemenristek, LIPI, PLN, KLH, Kementrian Perindustrian dan sebagainya.
Nantinya tim ini akan menentukan teknis proyek PLTN seperti lokasi, penggunaan teknologi hingga perizinannya. “Diperkirakan akan terbentuk tahun depan, tapi belum tahu bentuknya nanti seperti apa, apa BUMN atau swasta,” ujarnya.
Sementara itu anggota Dewan Energi Nasional, Muhtasor mengatakan dalam pengembangan energi aspek yang tidak boleh ditinggalkan adalah aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, dan tidak bisa ditinggalkan salah satunya. “Beberapa negara seperti China, Korea Selatan dan India sudah menerapkan teknologi serupa. Indonesia punya potensi besar untuk itu,” katanya. m1

0 komentar:

Posting Komentar