Senin, 02 Agustus 2010

Energi Nuklir For A Better Indonesia

Habibie juga menyampaikan tiga skenario pengembangan energi di Indonesia pada masa mendatang, yakni pengembangan energi tanpa nuklir, pengembangan energi dengan opsi nuklir hingga 2025, serta pengembangan energi dengan opsi nuklir kompetisi.

Apa yang sudah disampaikan Habibie tersebut, tentunya dapat dijadikan masukan berharga terutama untuk memanfaatkan energi nuklir menjadi sumber energi alternatif ramah lingkungan, dalam menjamin ketahanan penyediaan listrik nasional. Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya sudah pernah memutuskan memiliki reaktor nuklir untuk suplai energi pada 2017. Namun kebijakan ini kemudian dicabut, sehingga Indonesia tidak memiliki strategi kebijakan energi yang menjangkau kepentingan masa depan.



Padahal, selain lebih ekonomis, adanya kepastian pasokan dan aman, pemanfaatan energi nuklir juga memberi sumbangan besar bagi upaya mengurangi pemanasan global. Tak kalah pentingnya pemanfaatan teknologi nuklir dapat dikatakan sebagai strategi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, untuk memperoleh aliran listrik guna mendukung pembangunan ekonomi nasional.

Bila ditelusuri, sebenarnya rencana pembangunan PLTN sudah digagas sejak masa Presiden Soekarno. Namun entah mengapa saat itu gagasan tersebut tidak berhasil diwujudkan. Siwabessy adalah ahli nuklir pertama yang dilahirkan dari ambisi Soekarno kala itu. Namanya pun kemudian diabadikan menjadi nama sebuah reaktor penelitian di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Serpong.

Sejarah pun kemudian berlanjut pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, yang bertekad membangun PLTN akhir tahun 1990-an. Namun badai krisis moneter berkepanjangan saat itu, mengikis habis keinginan bangsa Indonesia untuk membangun PLTN. Meski harus diakui keinginan untuk membangun PLTN tak pernah sirna dan masih terus didengung-dengungkan hingga saat ini.

Sejatinya nuklir bagi masyarakat Indonesia tidaklah terlalu asing. Sebab di Indonesia terdapat tiga Batan yang didirikan di tiga kota, yaitu Bandung (1960-an), Yogyakarta (1970-an), dan Serpong (1980-an). Selain itu, Indonesia memiliki cukup banyak sumber daya radioaktif khususnya di Kalimantan Barat dan tenaga SDM ahli bidang nuklir. Karenanya, sudah selayaknya energi nuklir dapat dimanfaatkan dengan baik untuk pembangkit listrik. Masyarakat pun tidak perlu takut memanfaatkan nuklir sebagai sumber energi alternatif pembangkit.

Menristek Suharna Surapranata dalam executive meeting di kantor Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), memberikan pandangan positif terhadap keberadaan PLTN. Dalam pandangannya, hal yang menyangkut pengawasan keamanan dan keselamatan reaktor nuklir sejatinya menjadi tugas banyak pihak, bukan hanya masyarakat dan negara tempat reaktor tersebut berada. Dikatakan, ada badan pengawas dunia yang memastikan sebuah reaktor nuklir untuk PLTN benar-benar aman keberadaaanya, yaitu International Atomic Energy Agency (IAEA), sebuah badan dunia yang menangani persoalan nuklir dunia.

**

BERDASARKAN data dari United Nation Long-Range World Population Projections, populasi dunia pada 2015 akan bertambah menjadi 7,2 miliar jiwa, tahun 2025 naik menjadi hampir 8 miliar jiwa dan tahun 2050 bertambah menjadi 9,3 miliar jiwa. Dampak dari hal ini akan berakibat pada penyusutan sumber daya alam tak terbarukan secara drastis. Sebab pemenuhan kebutuhan energi dunia, terdiri atas energi primer global sebesar 87% dan energi listrik 63%, berasal dari bahan bakar fosil.

Tak heran jika kemudian, batu bara yang memiliki cadangan global 1.316 triliun ton, akan habis digunakan selama 231 tahun. Demikian pula dengan cadangan minyak bumi dengan kapasitas yang tersedia secara global sebesar 1.195 triliun barel, dapat digunakan hingga 43 tahun. Sedangkan gas alam yang memiliki cadangan global 144 triliun m3, dapat digunakan tidak lebih dari 62 tahun.

Lalu bagaimana dengan cadangan global uranium yang merupakan bahan dasar reaktor nuklir? Diperkirakan cadangan uranium dunia sekitar 4.36 juta ton. Selaian itu terdapat 4 miliar ton uranium dalam konsentrasi rendah di lautan, dan zat lain yang dapat dipergunakan sebagai bahan bakar nuklir, sebanyak tiga kali jumlah uranium. Tak kalah pentingnya untuk diketahui, da-lam reaktor nuklir, bahan bakar nuklir yang sudah dipergunakan dapat didaur ulang.

Itu berarti kalaupun hal ini dilakukan pada PLTN di seluruh dunia, semua sisa uranium da-pat menjadi suplai energi untuk ribuan tahun. Dengan kata lain energi nuklir dapat digunakan selama jutaan tahun. Suatu kondisi yang tidak akan pernah ditemukan untuk sumber energi lain di dunia ini.

Melihat betapa prospektifnya energi nuklir bagi pembangkit listrik, hampir semua negara-negara di dunia memenuhi sebagian kebutuhan energinya dengan PLTN. Seperti yang dilakukan Perancis yang memenuhi energinya dengan PLTN sebesar 80%, Amerika Serikat 20%, dan Korea 40%.

Harus diakui ternyata banyak manfaat yang diperoleh, bila energi nuklir dimanfaatkan dengan bijak. Sebab disadari atau tidak, pengembangan energi nuklir bisa menjadi salah satu energi alternatif yang ramah lingkungan, guna memenuhi pasokan listrik di Indonesia pada masa mendatang. Tentunya, energi nuklir for a better Indonesia. Semoga! **

0 komentar:

Posting Komentar