Rabu, 08 Agustus 2012

Kedelai di Indonesia “Termodifikasi” untuk Iklim Tropis

Peneliti Kedelai dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Harry Is Mulyana, membantah bahwa kedelai hanya mampu hidup di daerah beriklim subtropis. Menurutnya, dengan berbagai varietas yang telah ada saat ini, kedelai di Indonesia telah dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu bertahan pada iklim tropis.


Harry menyampaikan hal tersebut pada konferensi pers acara diskusi Ketahanan Pangan: Swasembada Kedelai 2014, di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (7/8).

“Saya tidak setuju bila dikatakan kedelai hanya untuk iklim subtropis. Karena kalau dikatakan hanya untuk sub-tropis, masa panen kedelai adalah selama empat bulan. Sedangkan, petani kita bahkan bisa hanya sekitar tiga bulan, bahkan hanya 8-0 hari. Jadi, kedelai Indonesia sudah dirakit sedemikian rupa supaya mampu menyesuaikan diri dengan iklim tropis,” tegas Harry.

Ia menambahkan, berbagai Lembaga Penyelenggara Pemuliaan telah berhasil memperoleh beberapa varietas kedelai. Selama jangka waktu 90 tahun telah dihasilkan sebanyak 71 varietas yang terdiri dari 35 varietas hasil persilangan, 18 varietas hasil introduksi, 11 varietas lokal dan 7 dari hasil mutasi radiasi.

“Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan 53 varietas, Perguruan tinggi Unpad 2 varietas, Unsud 2 varietas, Unej 2 varietas, UGM 1 varietas dan BATAN 6 varietas,” ujarnya

Ia menambahkan, khusus untuk Batan, sejak tahun 1987, telah mengeluarkan sejumlah varietas-varietas kedelai baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan varietas kedelai yang sesuai dengan iklim di Indonesia, sperti Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, Mitani dan Mutiara 1.

“Pada tahun 2004 kita melepas Rajabasa. Kita kembangkan khusus untuk lahan masam. Dari hasil riset, varietas ini mampu menghasilkan 2,5 ton per ha. Akan tetapi, kuantitas jumlahnya sangat tergantung pada agrosistem daerah tersebut. Di Sumsel, bahkan bisa mencapai 3,9 ton per Ha,” ujar Harry.

Selanjutnya, pada tahun, 2008, Batan melapaskan Mitani. Varietas ini sengaja dikhususkan utnuk lahan kering atau tegalan di beberapa daerah seperti di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Varietas ini memiliki kelebihan tahan terhadap hama kutu apsi, yaitu hama yang bisa membawa virus.

“Bila terserang hama ini, petani dapat mengalami penurunan produksi hingga 80 persen,” ujar Harry

Dari segi kualitas, Harry menungkapkan bahwa kandungan protein pada kedelai Indonesia justru lebih baik dari kedelai Amerika. Kedelai Indonesia memiliki kadar protein sekitar 37-45 persen, tergantung dengan jenis varietasnya. Sedangkan, kedelai Amerika hanya berkisar antara 32-35 persen.

Selain itu, lahan di Indonesia sangat potensial untuk ditanami kedelai. Karena, Batan juga telah mengembangkan sejumlah varietas yang memiliki karakteristik tempat yang disesuaikan dengan agrosistem masing-masing.

“Selama ini, semua varietas yang telah dikeluarkan oleh Batan selalu diuji oleh sejumlah profesor. Setelah itu, baru dikeluarkan SK Menteri untuk melakukan pendistribusian pada masyarakat. Jadi setiap varietas yang diluncurkan oleh Batan, selalu dalam pengawasan pemerintah,” jelasnya.

Selanjutnya, Batan menyebarkan hasil penelitiannya tersebut kepada petani, termasuk memberikan dana untuk mengembangkan varietas tersebut. Misalnya, ketika memperkenalkan varietas baru, Batan selalu melakukan pemantauan mengenai perkembangannya.

“Dari hasil laporan di Bogor, padi dari Batan tidak kalah dengan padi hasil dari Kementan,” kata Harry.

Karena itu, ia sangat optimis bila Indonesia serius untuk swasembada kedelai. Namun, pemerintah harus serius untuk menindaklanjuti hal ini. Menurutnya, sulit untuk mengaplikasikan swasembada kedelai 2012, bila tidak ada dukungan penuh dari pemerintah.





 

0 komentar:

Posting Komentar